9/09/2007

Aku dan Sahabat

Ruang ini terlalu terang untuk resahku yang bergelayut

Kulepas mataku mencari jawab dari detik waktu yang kita tempuh
Adakah kemiripan itu ??
Kemiripan memaknai kebersamaan yang berjalan
Terlintas seberkas bimbang
Adakah kita sama memaknai sebuah persahabatan ??
Bukan atas dasar perjanjian untuk slalu ada ketika kita dibutuhkan
ada ketika kita dicampakkan
ada ketika kita kehilangan kepercayaan
Tapi kita punya dunia sendiri yang harus diwarnai tanpa ada janji membatasi
Pengembaraan kita tidak berakhir disini
Akankah slalu ada sosokku dalam tiap hela do'amu...

Ataukah memang terlalu banyak ruang yang tersisa yang tak mungkin ku ketahui...

Ada satu ruang yang aku tak mampu membaca isyaratnya
Aku tak bisa melihat kegalauan yang lepas sendirian
Hingga gurauan berirama kering yang bekukan altar yang terbangun

Ada kalanya kita damai dalam jeda yang panjang
Tapi kita tetap merasa ada ketika orang lain tak merasa kita ada
Kita punya hati untuk dihargai dalam menentukan hidup ini
Untuk menjembatani agar lebih mengenal persahabatan lain yang masih memberi janji untuk menemani
Ada bahu lain ketika kita lelah bertarung
Tapi apakah kita masih beranggapan kebersamaan adalah suatu janji pengisi kesunyian sepi ??

Yang pasti....
Kita satu dalam menjalani lakon yang diberi
Bahwa kau kawanku bukan lawanku


*Teruntuk sahabatku
Apakah kau masih sahabatku ??
Karna sahabat tak pernah tersingkirkan dalam hati
Sampai kapanpun....

9/07/2007

Dunia baru Si Bungsu

Adek bungsuku Wahyu yang manjanya minta ampun, yang dulu waktu aku tinggal masih duduk dikelas V MI, yang obrolan terakhirnya tak terlupakan sebelum aku berangkat, sekarang udah masuk tingkat SLTP. Udah masuk pesantren juga. Udah gede kamu dhe'...

Awalnya, aku sebagai mbak sulungnya pingin dia masuk pesantren di Jombang. Biar bareng ama mbaknya yang masih study di Jombang juga. Jadinya ada yang ngawasin. Tapi ternyata pilihannya lain. Dia milih ngelanjutin sekolahnya di Madrasah Tsanawiyah Negeri di Banyuwangi sekaligus nyantri disalah satu pesantren yang kawasannya tidak jauh dari sekolah. Kata ortuku sih itu pesantren Qur'an. Aku juga kurang begitu tau, nggak tau nama pesantrennya juga.

Awalnya aku agak keberatan kalo adekku itu nggak masuk sekolah yang satu yayasan ama pesantrennya. Pergaulan diluar yang bikin aku khawatir dengan perkembangannya. Soalnya semua sodara-sodaranya masuk sekolah yang satu yayasan ama pesantrennya. Dan sisi positifnya udah aku tau. Kalo satu yayasan ma pesantren, pihak pesantren bisa ngontrol gimana perkembangan dia di sekolahnya, bisa ngatur jadwal antara kegiatan sekolah dan pesantren juga, agar nggak berbenturan. Waktu aku tanya dia kenapa milih sekolah yang deket rumah, dia jawab "biar bisa pulang seminggu sekali mbak, nemenin ibu dirumah", ujarnya. Emang sih, kalo adek bungsuku masuk pesantren, tinggal bapak ibuku dirumah. Ada juga sepupuku yang sekolah di MTs dirumah dan tinggalnya dirumahku juga. Dulu, kata orang bapak ibuku punya anak banyak, 5 orang. Tapi sekarang malah sepi, nggak dirumah semua. Aku yang sulung merantau paling jauh, yang kedua juga nyantri di Malang, yang ketiga nyantri di Jombang, yang ke empat di Jember. Dan yang terakhir ini milih yang deket-deket rumah, alasannya biar bisa sering nengokin ibu. Saat aku tanya ibu, jawabannya juga gitu. Jadi terharu...

Kemaren tanggal 23 agustus, adekku Adi ultah. Sengaja aku telpon rumah mo nanyain nomer hp dia. Mo ngasih ucapan met ultah, sekalian mo tau kabar dia. Nggak taunya, kata bapak Adi lagi dirumah, tapi lagi nganter Wahyu balik ke pesantrennya. Ternyata dirumah ada acara tasyakuran ultah Adi. Kebiasaan dirumahku sih kalo tasyakuran di isi khotmil Qur'an. Itupun yang baca keluarga sendiri.

Dari ngobrol-ngobrol ma ibu, aku tau perkembangan Wahyu sejak dia masuk pesantren. Rencana awal dia pulang seminggu sekali jenguk ibu, ternyata nggak terlaksana. Dia betah banget di pesantren. Kalopun pulang cuma sampek sore, abis maghrib langsung balik ke pesantren. Dan ke khawatiranku pun terhapuskan. Ibu juga nggak nyangka Wahyu bisa cepat mandiri seperti itu.

Inget dulu saat dia masih sekolah MI. Kalo mo tidur harus dikelonin ma ibu, sambil "menthil". Kalo mau apa-apa harus diturutin. Yang paling bikin aku gemezzz, tiap kali ada artis yang tenar saat itu, dia pasti ngikutin gayanya. Waktu tenar2nya ariel peter pan, dia bergaya ala ariel. Ngikutin gaya rambutnya, bangun tidur langsung ke kamar mandi bukannya cuci muka, tapi cuman basahin rambutnya trus di bikin gaya model rambutnya ariel. Ditarik-tarik rambutnya dikit ke depan telinga. Giliran yang tenar Radja, model rambutnya ngikut jabrik juga!!!

Btw...adek bungsuku kini mulai beranjak remaja. Mbak nggak bisa nemenin masa-masa remajamu saat ini dhe'. Mbak cuman bisa ngiringi langkahmu dengan do'a. Moga langkahmu slalu dalam ridho-Nya.

9/05/2007

Marhaban Ya Ramadan

Alhamdulilah Ya Robb...aku disampaikan pada bulan yang penuh atas berkah-Mu. Bulan penyucian diri. Ini adalah tahun ketiga aku menjalani Ramadan di negeri kinanah. Tahun pertama saat aku datang dipertengahan Ramadan. Belum ada persiapan berarti untuk menyambut bulan selaksa rahmat-Mu. Dalam satu minggu sebelum bulan suci itu tiba, aku masih memiliki beberapa kegiatan yang harus di selesaikan. Persiapan presentasi di kajian FORDIAN, kumpul komunitas penyair dan kegiatan rutin bengkel sastra Sanggar Piramida. Semoga semua agenda berjalan lancar. Hingga saat memasuki bulan penuh rahmat-Mu, aku benar-benar bisa mereguk selaksa rahmat dan berkah-Mu ya Robb.

Sebenarnya ada beberapa tulisan yang ingin aku up load dalam blog ini. Tapi selalu dan selalu banyak hal yang menyebabkan tertundanya postingan tulisan. Kadang saat ide itu muncul, bertabrakan dengan letih yang sudah tak mampu aku tahan. Akhirnya...terpaksa tewas sebelum menyelesaikan tulisan tersebut. Dan untuk memulai lagi besoknya, selalu berbenturan dengan kegiatan yang lain. Atau jika ada waktu kosong, kondisi komputer yang akhir2 ini sering error membuatku ogah-ogahan meneruskan tulisan atau sekedar menuangkan ide.

Semoga saja, meski itu sudah menjadi kisah yang lama bagiku akan tetap menarik untuk aku ungkapkan. Yah...kalopun nggak menarik lagi, yang pentingkan aku pingin terus nulis, nulis dan nulis :).

Banyak hal sebenarnya yang ingin aku ceritakan pada semua yang sekedar singgah dalam blogku. Semoga waktu ke depan aku benar2 bisa memanfaatkan waktu yang ada, dan tentunya didukung oleh sarana yang mendukung :). Oh ya...aku punya keinginan sebelum bulan Ramadan tiba nanti. Ziarah ke makam Imam Syafi'i. Keinginan yang belum terrealisasi sejak sebelum ujian termin II lalu.

Mungkin aku hanya bisa mengucapkan SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA dan iringan do'a SEMOGA BULAN SUCI INI MENJADI BULAN YANG PENUH DENGAN RAHMAT DAN BARAKAH BAGI KITA SEMUA.

8/28/2007

Thank's God...For Everything...

Awal bulan Agustus 2007, tepatnya hari selasa 07/08/07 natijah yang aku nantikan akhirnya keluar juga. Nilai akhir atas usaha belajarku selama setahun kemarin. Dan ternyata, aku haru mengulang sejarah tahun lalu. Bahwa aku masih belum bisa melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Shock!!!tentu saja. Karena dibanding taun pertama, aku ngerasa lebih berusaha sekarang. Dan yang jelas, tak ingin masuk ke lubang yang sama. Namun ternyata ada ketentuan lain yang harus aku terima. Yah...mungkin memang aku harus lebih rajin lagi. Tidak merasa cukup dengan ketekunan yang aku lakukan selama setaun kemarin.

Saat itu juga aku langsung sms ke ortu memberitahukan hasil ujianku."Ass.Pak,ngapunten.Taun ini kulo ngulang maleh.Nilai baru turun.Ngapunten,kulo namung saget nyuwun ngapunten.Nggak bisa memberikan yang terbaik". Balasan dari ortu sempet bikin aku bingung dan bertanya-tanya."Bapak/Ibu tidak terlalu merisaukan nilai.Yang penting Laily sudah usaha.Apa rencana mbak selanjutnya?".

Kalimat terakhir yang membuat aku bertanya-tanya. Maksud rencana selanjutnya itu apa??Apa mungkin ortu menghendaki aku untuk pulang??Ataukah ada maksud lain??. Agar tak terjadi misunderstanding, aku telphon ke ortu saat itu juga. Dan ternyata benar. Ortu punya tawaran untukku. Tawaran untuk pindah kuliah di Indo. Tawaran itu muncul atas pertimbangan ortu yang mengkhawatirkan aku. Ortu khawatir aku terbebani kuliah disini. Karena ternyata sampai dua kali aku masih belum bisa lolos.

Dengan mantap aku jawab tawaran ortuku "Kalo bapak ibu masih memberikan restu untuk kelanjutan study saya disini, insyaallah saya nggak akan mundur. Saya masih punya semangat untuk terus belajar disini. Hanya restu bapak ibu yang saya harapkan". Dan bapak pun menjawab dengan tanpa ragu "Itu yang bapak harapkan". Ibu juga turut memberikan dorongan semangat padaku, "Nggak usah bilang Mbak nggak bisa memberikan yang terbaik buat bapak ibu. Semangat Mbak untuk terus belajar, itu sudah pemberian yang terbaik yang Mbak berikan. Bapak ibu nggak bisa memberikan apa2, cuma bisa memberikan kesempatan belajar yang seluas2nya buat Mbak".

Ya Robb...anugerah apalagi yang belum Kau curahkan pada hamba-Mu ini ?? Hanya hamba yang tidak mampu untuk mensyukuri segala nikmat dan anugerah-Mu.
Bapak Ibu adalah penyemangat paling ampuh buatku. Beliau berdua tak pernah henti untuk terus memberikan support. Ya Allah...aku tak tau harus menghaturkan do'a apa untuk kedua orang tuaku yang begitu besar jasanya. Hanya dengan selaksa rahmat-Mu, berikan balasan yang terindah untuk keduanya Ya Robb...

Malam itu juga, aku melakukan muhasabah atas diri. Muhasabah untuk segala hal yang kurang dalam usahaku selama ini. Dan aku menemukan beberapa point yang menjadi titik kelemahanku. Insyaallah, dalam setahun kedepan aku perbaiki. Dan tentu saja, tak ada waktu untuk menyesali semua yang telah terjadi. Mulai detik ini hingga nanti, lakukan yang terbaik sebagai ganti atas kegagalan2 yang telah lalu.

8/03/2007

Dermaga itu.....

Aku pernah baca novel judulnya "Peta yang Retak" karya EM Ali. Ada beberapa baris kata semacam sajak yg sangat aku suka, dan pernah juga aku masukkan ke cerpen perdanaku. Isinya gini....

Usai kepergian, ada yg terbawa
Setangkup hasrat melukai
Dijalan ini tersisa kenang
Dan tergarit dalam nganga

Apakah rasa yg terrenggut perlu dinamai ?

Pertemuan usai, perpisahan mengikuti
Begitu banyak orang datang dan pergi dalam hidup, tanpa bisa diterka dan dihentikan
Dan kita adalah dermaga bagi perahu-perahu jiwa yg lain
Ada yg bertahun-tahun melempar sauh dan merapat didermaga tapi tidak menggoreskan apa-apa kecuali sedikit saja
Namun ada yg sekilas singgah
Tapi goresannya dikanvas hati adalah nuansa warna-warni yg memperkaya hidup
Pahatan-pahatannya merupakan bongkahan sejarah yg akan slalu dikenang

Apakah salah kalau aku menamai ini cinta ?

Aku mengibaratkan perjalanan hidupku sebagai sebuah perahu yg berlayar mengarungi samudera. Mencari dermaga untuk berlabuh.
Ada beberapa dermaga yg pernah mencoba kujadikan tempat bersandar. Ada yg cukup lama, ada pula yg hanya sesaat. Namun ternyata, slalu ada batas waktu yg membuatku harus kembali mengarungi samudera. Dan aku kembali berlayar, mengarungi samudera, melewati teriknya mentari, menikmati indahnya purnama, menghirup segarnya angin sepoi beraroma bahari. Tak jarang pula badai menerjang perahu dan memporak-porandakannya. Dan dengan segenap kekuatan ia kembali bangakit, melawan ombak. Dan kembali berlayar dengan semangat yg lebih kuat.
Terkadang juga ada rasa jenuh yg tiba-tiba datang. Lelah mengarungi samudera. Ingin segera berlabuh. Dan tak semudah membalikkan telapak tangan jika aku ingin berlabuh. Banyak hal yg harus aku pertimbangkan dalam memilih dermaga akhirku. Sok idealis, itu memang yg aku lakukan. Tapi aku tak tahu lagi harus bagaimana ??!!